
Langkat — Yayasan Srikandi Lestari melakukan kegiatan monitoring dan pemeliharaan terhadap area pemulihan mangrove yang sebelumnya telah ditanami sekitar 5.000 batang bibit mangrove pada September 2025 di wilayah Kwala Langkat. Kegiatan ini dilakukan bersama anggota kelompok dampingan Jaya Lestari sebagai bagian dari upaya memastikan keberlanjutan program pemulihan ekosistem pesisir.
Dalam proses monitoring dan pemeliharaan tersebut, tim Yayasan Srikandi Lestari bersama anggota kelompok menemukan bahwa sebagian besar dari 5.000 batang bibit mangrove yang telah ditanam mengalami kerusakan dan mati. Kerusakan ini diduga kuat akibat dampak siklon topan Senyar yang terjadi pada November 2025 lalu.

Siklon topan Senyar menyebabkan gelombang tinggi dan arus laut yang kuat di kawasan pesisir, sehingga banyak bibit mangrove yang baru tumbuh tidak mampu bertahan dan akhirnya mati. Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri dalam upaya pemulihan ekosistem mangrove di wilayah tersebut.
Meski demikian, Yayasan Srikandi Lestari bersama kelompok dampingan Jaya Lestari tetap berkomitmen untuk melanjutkan upaya rehabilitasi mangrove di kawasan Kwala Langkat. Pemulihan ekosistem mangrove dinilai sangat penting karena mangrove berfungsi sebagai pelindung alami pesisir dari abrasi dan gelombang tinggi, sekaligus menjadi habitat penting bagi berbagai biota laut.





