
Langkat – Bencana kemanusiaan menerjang warga Kecamatan Pangkalan Susu, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara. Sebab di sana sudah banyak yang mengalami sesak napas, penyakit kulit, paru hitam, batuk berkepanjangan, jantung, bahkan kematian.
Hal ini dipicu dari aktivitas industri ekstraktif yang menjadi Objek Vital Nasional (OVN). Di dalamnya terdapat pembakaran batu bara untuk mengalirkan listrik ke Kota Binjai dan Aceh.
“Semenjak mulai beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara, kehidupan kami malah makin sengsara. Lahan penghidupan kami, baik itu di laut dan daratan mulai tercemar karena pabrik listrik itu,” ujar nelayan Pulau Sembilan. Selasa, (04/04/2023).
Mimi Surbakti selaku Direktur Eksekutif Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menduga kuat Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara menjadi penyebab bencana kemanusiaan.
Pihaknya sejak tahun 2017 hingga sekarang mendampingi kelompok masyarakat di Pangkalan Susu untuk berjuang agar terbebas dari polusi udara yang disebabkan oleh aktivitas industri ekstraktif tersebut.
Hasil investigasi yang dilakukan YSL menemukan sebanyak 333 orang (202 Laki-laki, 131 Perempuan), rentang usia 1 – 19 tahun berjumlah 98 orang dan 235 orang dengan rentang usia 20 – 75 tahun, tercatat ada lima jenis
penyakit gatal-gatal 243, batuk sesak nafas dan infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) 42 Kasus, hipertensi 39, paru hitam 4 orang.
“Baru-baru ini kami menemukan di Desa Pulau Sembilan sebanyak 90% masyarakat terserang gatal-gatal, bahkan empat orang meninggal karena paru hitam. Sedangkan di Desa Sei Siur juga ada empat orang. Total jadi delapan orang sudah merenggut nyawa,” ungkapnya.
Perlu diketahui, PLTU Pangkalan Susu memiki empat unit yang membutuhkan 23,770 ton/hari dan mampu mengeluarkan limbah fly ash bottom ash (faba) sebanyak 1,426,2 ton/hari.