
Medan, 11 Agustus 2025 — Yayasan Srikandi Lestari (YSL) melakukan kunjungan resmi ke Rumah Yatim pada Senin, 11 Agustus 2025. Pertemuan ini bertujuan mempererat silaturahmi sekaligus menjajaki peluang kerja sama strategis dalam penyaluran bantuan kepada masyarakat kurang mampu, terutama di wilayah Deli Serdang dan Langkat yang hingga kini masih minim sentuhan program bantuan berkelanjutan.
Dalam pertemuan tersebut, perwakilan YSL, Sumiati, memaparkan bahwa YSL selama ini berfokus pada pendampingan masyarakat di tingkat tapak, khususnya kelompok rentan yang hidup dalam kemiskinan akibat kerusakan lingkungan. Krisis iklim berdampak langsung terhadap keberlangsungan hidup kelompok. Pergeseran pola cuaca, bencana alam, dan degradasi lingkungan telah memperparah kerentanan ekonomi mereka. Banjir, kekeringan, abrasi pantai, serta penurunan hasil panen di sektor pertanian dan perikanan membuat sumber penghidupan semakin rapuh.
Akibat tekanan ekonomi tersebut, banyak kepala keluarga terpaksa mencari pekerjaan serabutan, meminjam uang dengan bunga tinggi, atau mengandalkan bantuan pihak luar untuk bertahan hidup. Tantangan yang dihadapi bukan hanya pada aspek ekonomi, tetapi juga meluas pada sektor sosial dan kesehatan. Akses terhadap pangan bergizi, pendidikan layak, dan layanan kesehatan memadai menjadi semakin terbatas.
“Kami datang untuk melihat potensi sinergi, sehingga setiap bantuan yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberi dampak signifikan bagi penerima manfaat,” ujar Sumiati.
Kepala Cabang Rumah Yatim, Eka Hermawan menyambut baik rencana kolaborasi ini. Menurutnya, Rumah Yatim selama ini telah mengembangkan berbagai program bantuan, namun fokus intervensi masih berada di wilayah Kota Medan. Rumah Yatim memberikan bantuan tidak hanya kepada kaum yatim, tetapi bagi mereka yang tergolong sebagai fakir miskin, dhuafa dan orang-orang yang sungguh membutuhkan uluran tangan. Dalam kondisi tertentu, justru fakir miskin akan lebih diutaman daripada yatim.
“Untuk menjangkau daerah seperti Deli Serdang dan Langkat, kami perlu melakukan penggalangan dana serta melakukan survey lapangan bersama untuk memastikan data dan kebutuhan masyarakat di sana,” jelasnya.
Rumah Yatim memiliki sejumlah program unggulan yang dinilai dapat diintegrasikan dengan kegiatan YSL, antara lain:
- Beasiswa Dhuafa berupa uang saku bulanan dan bantuan biaya kebutuhan sekolah.
- Assessment Penerima Manfaat untuk profiling dan pencarian dana melalui platform donasi online.
- Santunan Tunai sebesar Rp50.000 per penerima manfaat sebagai bentuk dukungan langsung.
- Program Medis/Peduli Sehat dengan bantuan hingga Rp350.000 per penerima, mencakup pengobatan untuk penyakit berat seperti kanker payudara, stroke, dan kondisi kesehatan kritis lainnya.

YSL menambahkan bahwa di wilayah dampingan mereka, tidak sedikit masyarakat yang menghadapi permasalahan serius seperti kekerasan dan eksploitasi. Menurut Sumiati, data anak yatim yang benar-benar membutuhkan bantuan, kisah hidup penerima manfaat yang inspiratif, serta kasus kesehatan yang mendesak akan menjadi materi penting dalam penyusunan program bersama. “Pendekatan yang berbasis data dan cerita nyata akan memudahkan proses penggalangan dana dan menguatkan keterlibatan para pihak,” tambahnya.
Pertemuan yang berlangsung hangat ini menghasilkan beberapa kesepakatan awal, di antaranya rencana survey lapangan bersama di Deli Serdang dan Langkat, pengumpulan data penerima manfaat prioritas, serta penyusunan proposal kolaborasi. Kolaborasi ini diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan bantuan, tetapi juga membentuk pola intervensi yang lebih terarah dan berkelanjutan, sehingga dapat menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini terpinggirkan.
Dengan sinergi antara YSL dan Rumah Yatim, harapannya akan terbangun jaringan bantuan yang lebih kuat, transparan, dan mampu menjawab tantangan kemiskinan di wilayah Sumatera Utara, terutama bagi kelompok dhuafa dan yatim yang rentan secara ekonomi maupun sosial.