
Langkat, Sumatera Utara, 25 Januari 2025 — Sebanyak 100 pembela hak asasi manusia (HAM) dari lima desa dampingan Yayasan Srikandi Lestari (YSL) mengikuti kegiatan wellbeing dan relokasi di Pamah View, Langkat, pada Sabtu (25/01). Peserta berasal dari Desa Pintu Air, Lubuk Kertang, Sei Siur, Kwala Serapuh, dan Kwala Langkat.
Kegiatan ini digelar sebagai ruang aman bagi para pejuang lingkungan yang selama ini menghadapi tekanan, ancaman, kriminalisasi, dan trauma akibat perjuangan mereka dalam mempertahankan hak hidup yang adil dan lingkungan yang sehat. YSL memfasilitasi pertemuan ini untuk memperkuat hubungan antar pembela HAM, perempuan pembela HAM, serta meningkatkan sinergi antar komunitas.
Para peserta kegiatan merupakan warga yang selama bertahun-tahun memperjuangkan lingkungan dan hak masyarakat, namun di sisi lain sering menjadi target intimidasi.

Di Pangkalan Susu (Sei Siur, Lubuk Kertang, dan Pintu Air), masyarakat terus menyuarakan penutupan PLTU Pangkalan Susu karena dampaknya terhadap kesehatan dan lingkungan. Perjuangan ini tidak lepas dari berbagai tekanan yang mereka hadapi.
Dari Kwala Langkat, hadir komunitas yang memperjuangkan kebebasan Ilham Mahmudi, seorang pejuang lingkungan yang dikriminalisasi dan dipenjara akibat keberaniannya melawan perusakan hutan.
Sementara itu, masyarakat Kwala Serapuh berbagi kisah panjang perjuangan mereka dalam melawan perusahaan yang merambah lahan untuk perkebunan sawit. Samsul dan Samsir menghadapi kriminalisasi dan tekanan berat selama mempertahankan tanah mereka. Perjuangan tersebut akhirnya berbuah hasil ketika warga memperoleh hak kelola dan kini membentuk kelompok tani nipah yang mengelola lahan secara adil dan berkelanjutan.
Pengalaman-pengalaman tersebut meninggalkan trauma, rasa cemas, hingga kelelahan emosional. Kondisi inilah yang melatarbelakangi pentingnya penyelenggaraan wellbeing bagi para pembela HAM.
Selama kegiatan, para peserta mengikuti sesi healing, relokasi sederhana, dan berbagai aktivitas untuk membantu memulihkan kondisi mental serta meningkatkan rasa aman. Mereka saling berbagi cerita, memberikan dukungan sebaya, dan membangun kembali energi positif yang sempat terkikis oleh pengalaman pahit.

Hubungan antar peserta juga semakin erat baik antar komunitas, antar perempuan pembela HAM, hingga antara sesama keluarga yang ikut hadir. Meskipun sebelumnya banyak di antara mereka yang belum saling mengenal, pertemuan ini membentuk solidaritas baru yang kuat.
Menurut Sumiati Surbakti selaku Direktur YSL, merawat kondisi mental para pembela HAM sama pentingnya dengan mendukung perjuangan mereka di lapangan. “Banyak dari mereka menghadapi risiko besar, namun tetap berdiri untuk membela lingkungan, tanah, dan masa depan komunitasnya,” ujarnya.
Dari Pamah View, para peserta pulang dengan energi baru. Mereka menyadari bahwa keberanian bukanlah ketiadaan rasa takut, melainkan langkah untuk terus maju meski ketakutan itu hadir. Kebersamaan dan dukungan antar komunitas kini menjadi kekuatan utama yang menjaga harapan perjuangan mereka tetap hidup.





