
Langkat, 28 Desember 2025— Banjir besar yang melanda kawasan Pangkalan Susu dan sejumlah kecamatan lain di Kabupaten Langkat sejak akhir November 2025 hingga awal Desember 2025 telah menimbulkan dampak luas terhadap kehidupan masyarakat, terutama anak-anak di Desa Sei Siur (24/12/2025), Pintu Air (26/12/2025), dan Lubuk Kertang (28/12/2025). Kondisi ini memicu respons cepat dari Yayasan Srikandi Lestari untuk membantu proses pemulihan anak korban banjir melalui pendampingan psikososial serta pemberian bantuan kebutuhan dasar.
Banjir yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem dan luapan sungai di wilayah Sumatera Utara ini telah berlangsung lebih dari 10 hari hingga pertengahan awal Desember 2025, membuat banyak desa terendam dan aktivitas masyarakat terganggu berat. Akses jalan raya utama pun terputus, sehingga evakuasi dan distribusi bantuan terganggu.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan terdampak secara emosional dan psikologis. Banyak dari mereka mengalami ketakutan, kecemasan, dan perubahan perilaku setelah rumah dan lingkungan bermain mereka terendam air. Untuk itu, Yayasan Srikandi Lestari menggelar kegiatan pendampingan psikososial yang intensif.
Dalam pendampingan tersebut, 100 anak-anak diajak mengikuti berbagai aktivitas seperti bercerita/mendongeng, mewarnai, bermain permainan edukatif, serta kegiatan seni dan ekspresi diri. Tujuannya adalah untuk membantu mereka mengekspresikan perasaan serta mengurangi trauma akibat pengalaman banjir yang penuh tekanan.
Manager Program Yayasan Srikandi Lestari, Dewi Hairani menyatakan bahwa “pendekatan anak-sambil bermain” sangat efektif untuk membantu anak mengatasi rasa takut dan bingung setelah mengalami bencana. Ia menambahkan bahwa fasilitas seperti ruang bermain sementara dan kegiatan kelompok sangat efisien untuk pemulihan.

Selain pendampingan psikososial, kebutuhan dasar anak juga menjadi perhatian penting. Yayasan Srkandi Lestari telah menyalurkan berbagai paket bantuan yang difokuskan untuk anak dan keluarga, meliputi beras, minyak, snack dan makanan instan lainnya. Distribusi bantuan ini dilakukan di masing-masing desa.
Srikandi Lestari berharap program pendampingan psikososial tidak hanya dilakukan sekali atau dua kali, tetapi berlanjut hingga anak-anak benar-benar pulih secara mental dan emosional, serta siap kembali beraktivitas normal seperti sekolah dan bermain.

Orang tua anak korban banjir juga menyampaikan rasa terima kasih atas dukungan yang telah diberikan. “Bantuan dan pendampingan ini sangat berarti bagi kami. Anak-anak merasa didengar dan tidak sendirian menghadapi trauma ini. Bantuan sembako yang diberikan pada anak kami juga sangat berarti, setidaknya kami bisa kami konsumsi untuk beberapa hari,” ujar Nurhayati, seorang ibu dari desa Pintu Air.

Proses pemulihan diharapkan berjalan lebih cepat. Fokus utama saat ini adalah membangun kembali rasa aman, keteraturan pendidikan anak, serta pemulihan sosial-emosional yang holistik. Upaya ini sekaligus menjadi langkah penting dalam membangun daya tahan komunitas terhadap cobaan pascabencana, serta memastikan bahwa anak-anak di Desa Pintu Air, Sei Siur dan Lubuk Kertang dapat tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang mendukung dan penuh harapan.




