SARULLA – HELL BENEATH THE EARTH

Di tengah hingar-bingar perbincangan global tentang transisi energi, kita mudah sekali terpukau oleh jargon-jargon besar: energi bersih, green economy, net-zero emission, dan sejenisnya. Seolah-olah, semua yang mengusung label “terbarukan” adalah kebaikan mutlak tanpa cela. Padahal, sebagaimana sejarah panjang industri energi menunjukkan kepada kita, tidak ada energi yang benar benar “bersih” bila cara mendapatkannya melukai manusia dan alam di sekitarnya.

Buku ini lahir dari keresahan dan rasa ingin tahu yang tak bisa diredam. Apa yang sebenarnya terjadi di balik pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla, salah satu proyek geothermal terbesar di Asia Tenggara? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang dikorbankan? Apakah betul bahwa panas bumi adalah solusi yang adil dan berkelanjutan bagi masa depan energi Indonesia, atau justru ini hanyalah wajah baru dari eksploitasi lama yang dibungkus narasi hijau?

Kami merasa perlu menyibak kabut tebal yang menutupi realitas di balik proyek besar ini. Sarulla bukan sekadar titik di peta proyek energi. Sarulla adalah rumah bagi masyarakat, tanah adat, ekosistem pegunungan, air, udara, dan cerita hidup yang tak pernah dilibatkan dalam rapat-rapat besar penyusun kebijakan energi nasional. Dalam investigasi ini, kami menelusuri berbagai jejak, mulai dari dokumen-dokumen resmi, wawancara langsung dengan warga terdampak, dan pengamatan lapangan. Kondisi yang kami temukan bukan sekadar benturan antara energi dan lingkungan, melainkan konflik antara kebutuhan dan hak, antara ambisi pembangunan dan keadilan sosial-ekologis.

Buku ini tidak dimaksudkan untuk menolak seluruh ide tentang energi terbarukan, apalagi untuk memusuhi sains atau kemajuan. Tetapi, kami ingin mengajak pembaca untuk meninjau ulang dengan jujur, transisi energi seperti apa yang kita inginkan? Transisi untuk siapa? Dengan cara apa? Dan akibat yang bagaimana bagi komunitas paling rentan? Jika kita membayangkan masa depan energi yang adil, maka keadilan itu harus terasa hingga ke desa-desa terjauh, ke lembah-lembah yang diselimuti kabut belerang, ke perbincangan dapur warga yang kehilangan keluarga karena keracunan atau ke petani yang lahannya tak lagi subur.

Buku ini bukan akhir, melainkan ajakan untuk melihat lebih dekat, mendengar
lebih saksama, dan berpikir lebih kritis. Semoga dari Sarulla, kita bisa belajar
bahwa tidak semua yang “hijau” itu adil, dan tidak semua kemajuan itu berarti
keberlanjutan, terutama bila suara-suara dari akar rumput masih terus
disenyapkan. Dengan penuh kesadaran dan harapan, kami persembahkan buku
ini untuk semua orang yang peduli bahwa energi bukan hanya soal listrik
menyala, tapi juga tentang siapa yang padam karena proyek-proyeknya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top

Review My Order

0

Subtotal