
Pulau Tiga, 30 Januari 2026 — Pagi itu, halaman salah satu titik kumpul warga di Desa Pulau Tiga perlahan dipenuhi suara riang anak-anak. Tangan-tangan kecil tampak sibuk memilih krayon warna-warni, sementara beberapa lainnya duduk melingkar dengan wajah antusias, menunggu cerita dimulai. Di tengah situasi desa yang masih berproses bangkit dari dampak bencana, Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menghadirkan sesuatu yang sederhana namun bermakna, yaitu ruang bagi anak-anak untuk kembali merasa aman dan bahagia.
Melalui kegiatan pendampingan psikososial, YSL mengajak 55 anak-anak penyintas bencana untuk terlibat dalam aktivitas mewarnai, mendongeng, dan bernyanyi bersama. Bagi orang dewasa, kegiatan ini mungkin terlihat seperti permainan biasa. Namun bagi anak-anak yang baru saja melewati pengalaman menegangkan, momen-momen tersebut menjadi langkah penting dalam memulihkan rasa nyaman yang sempat terguncang.
Mengapa Kegiatan Ini Penting?
Bencana sering kali dipahami melalui kerusakan yang tampak, rumah terendam, fasilitas rusak, atau aktivitas ekonomi yang terhenti. Namun di balik itu, ada dampak lain yang tidak selalu terlihat, yaitu luka emosional, terutama pada anak-anak.
Perubahan mendadak dalam kehidupan sehari-hari dapat membuat anak merasa kehilangan kendali. Mereka mungkin harus meninggalkan rumah untuk sementara, berpisah dari lingkungan bermain, atau menyaksikan kepanikan orang dewasa di sekitar mereka. Tanpa pendampingan yang tepat, pengalaman tersebut berisiko menimbulkan kecemasan berkepanjangan, ketakutan, bahkan menarik diri dari lingkungan sosial.
Berangkat dari kebutuhan itulah kegiatan ini diselenggarakan. YSL memandang bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali infrastruktur, anak-anak juga membutuhkan dukungan emosional agar dapat kembali menjalani masa tumbuh kembang secara sehat.
“Anak-anak memiliki cara sendiri dalam memproses pengalaman sulit. Ketika mereka diberi ruang untuk bermain dan berekspresi, itu sebenarnya adalah bagian dari proses penyembuhan,” Ujar Hafiz salah satu relawan kegiatan.

Warna sebagai Bahasa Perasaan
Sesi mewarnai menjadi pembuka kegiatan hari itu. Lembar demi lembar gambar dibagikan, dan anak-anak mulai menuangkan imajinasi mereka melalui warna. Ada yang menggambar rumah cerah dengan langit biru, ada pula yang memenuhi kertas dengan pelangi.
Tanpa banyak disadari, aktivitas ini membantu anak menyalurkan emosi yang mungkin sulit mereka ungkapkan lewat kata-kata. Warna menjadi bahasa perasaan, cara halus untuk mengurai ketegangan dan menghadirkan ketenangan.
Para relawan mendampingi dengan sabar, sesekali memuji hasil gambar atau mengajak anak bercerita tentang makna di balik pilihan warnanya. Interaksi sederhana ini turut membangun kembali rasa percaya diri anak.
Dongeng yang Menghidupkan Harapan
Keceriaan semakin terasa ketika sesi mendongeng dimulai. Anak-anak berkumpul membentuk lingkaran kecil, larut dalam kisah yang disampaikan dengan penuh ekspresi. Tawa pecah di beberapa bagian cerita, sementara di momen lain mereka mendengarkan dengan mata berbinar.
Dongeng bukan sekadar hiburan, ia membuka ruang imajinasi sekaligus menghadirkan pesan tentang keberanian, persahabatan, dan harapan. Dalam situasi pascabencana, cerita-cerita seperti ini membantu anak memahami bahwa masa sulit dapat dilewati dan keadaan akan perlahan membaik.
Bernyanyi, Menguatkan Kebersamaan
Menjelang akhir kegiatan, suasana berubah semakin semarak saat lagu-lagu ceria dinyanyikan bersama. Anak-anak bertepuk tangan mengikuti irama, beberapa bahkan berdiri dan bergerak mengikuti musik.
Bernyanyi dalam kelompok menghadirkan rasa kebersamaan yang kuat. Untuk sesaat, kekhawatiran yang mungkin masih tersisa tergantikan oleh gelak tawa dan energi positif.
Melihat keceriaan tersebut, para orang tua yang turut hadir tampak lega. Bagi mereka, senyum anak adalah tanda bahwa proses pemulihan sedang berjalan.

Bantuan Pangan untuk Dukung Pemulihan Keluarga
Selain menghadirkan dukungan emosional bagi anak-anak, YSL juga menyalurkan bantuan pangan kepada keluarga terdampak. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar masyarakat yang masih beradaptasi setelah bencana.
Dukungan tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan yang dirasakan keluarga, sehingga orang tua memiliki ruang lebih untuk mendampingi anak-anak mereka melewati masa pemulihan.

Menjaga Masa Depan Lewat Kepedulian Hari Ini
Kegiatan di Desa Pulau Tiga menjadi pengingat bahwa pemulihan sejati dimulai dari hal-hal kecil, sebuah cerita, sekotak krayon, atau lagu yang dinyanyikan bersama. Ketika anak-anak kembali tertawa, di situlah harapan tumbuh.
YSL percaya bahwa membantu anak bangkit dari pengalaman bencana berarti ikut menjaga masa depan komunitas. Sebab anak-anak yang pulih secara emosional akan lebih siap kembali belajar, bermain, dan bermimpi.
Di tengah desa yang masih menata kembali kehidupannya, warna-warna yang memenuhi kertas gambar pagi itu seakan membawa pesan sederhana namun kuat: setelah badai berlalu, selalu ada ruang bagi keceriaan untuk kembali.




