Audiensi dengan Kepala Desa Kwala Serapuh Soroti Tentang Bantuan Sosial

 Audiensi dengan Kepala Desa Kwala Serapuh
Audiensi dengan Kepala Desa Kwala Serapuh | YSL (2025)

Kwala Serapuh, 13 Juni 2025 — Yayasan Srikandi Lestari terus berupaya mendorong solusi nyata untuk perbaikan kondisi lingkungan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat pesisir. Salah satunya melalui audiensi bersama Kepala Desa Kwala Serapuh pada Jumat (13/6) yang membahas tantangan utama warga, khususnya nelayan, serta langkah-langkah penanganan berkelanjutan.

Audiensi dibuka oleh Dewi, perwakilan Yayasan Srikandi Lestari, yang menyoroti keterkaitan erat antara konflik lingkungan dan masalah sosial ekonomi. Ia menjelaskan, kerusakan lingkungan yang semakin parah membuat sebagian besar warga terpaksa pergi merantau demi mencari penghidupan yang lebih baik.

“Lingkungan yang rusak memaksa masyarakat kehilangan sumber mata pencaharian. Untuk itu, kami hadir untuk menghimpun data akurat warga yang layak mendapatkan bantuan. Target kami, minimal 200 orang per desa dapat dihubungkan ke program-program pemerintah yang relevan,” ujar Dewi.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Desa Kwala Serapuh menguraikan kondisi nyata nelayan setempat yang masih bergantung pada toke atau pemodal besar. Ketergantungan ini membuat nelayan sulit mandiri, karena harus menjual hasil tangkapannya dengan harga yang ditentukan pemodal sebagai pengganti modal pinjaman.

“Kami berharap ada upaya membantu nelayan lepas dari jeratan toke. Kebanyakan pemilik modal ini dari Cina, sementara nelayan hanya tahu menerima uang, tapi tidak memahami bagaimana mengelolanya. Yang paling dibutuhkan adalah bantuan dana untuk pelunasan hutang, agar mereka bisa bebas menjual hasil tangkapannya ke pasar manapun,” jelas Kepala Desa.

Upaya pemerintah desa untuk membuka peluang ekonomi alternatif melalui program ternak juga belum membuahkan hasil. Bantuan ternak yang pernah diberikan kurang tepat sasaran karena tidak mempertimbangkan kemampuan warga dalam beternak. Akibatnya, program tidak berjalan optimal dan tidak meningkatkan pendapatan keluarga.

Persoalan lain muncul dari tingginya pinjaman masyarakat ke lembaga pembiayaan Mekar. Banyak warga menggunakan pinjaman untuk menutup hutang lama atau biaya hidup sehari-hari, bukan untuk modal usaha. Hal ini justru menambah beban hutang baru yang semakin menyulitkan ekonomi keluarga.

Menjawab berbagai permasalahan tersebut, Yayasan Srikandi Lestari menyatakan siap memfasilitasi warga agar terhubung ke dinas-dinas terkait yang memiliki program pemberdayaan sesuai kebutuhan masyarakat. Dewi menambahkan bahwa salah satu tantangan dalam penyaluran bantuan adalah pembaruan data yang masih terpusat di tingkat nasional.

Sebagai bentuk dukungan jangka panjang, Yayasan Srikandi Lestari juga berkomitmen memfasilitasi pelatihan peningkatan keterampilan kerja bagi masyarakat, khususnya generasi muda Kwala Serapuh. Pelatihan yang direncanakan makan di isi oleh Dinas Ketenagakerjaan agar anak-anak muda memiliki peluang kerja yang lebih luas di luar sektor perikanan.

Audiensi ini ditutup dengan kesepakatan untuk memperkuat pendataan, mendorong penyaluran bantuan yang tepat sasaran, serta membangun kemandirian ekonomi nelayan melalui pelunasan hutang dan program pemberdayaan keterampilan kerja.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top