
Sumatera Utara, 30 November 2025 – Sejak akhir November 2025, Sumatera Utara dilanda bencana alam dalam skala besar. Hujan deras yang terjadi secara terus-menerus memicu banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan angin kencang yang menyapu banyak kabupaten/kota dan membuat ribuan warga terdampak.
Menurut data dari aparat kepolisian, sejak 24 November 2025 tercatat ratusan hingga ratusan kejadian bencana di provinsi ini. detiknews
Akibat bencana itu, jumlah korban manusia dan kerusakan infrastruktur sangat besar. iNews.ID
Pemerintah provinsi pun menetapkan status tanggap darurat bencana sejak 27 November 2025 berlaku selama 14 hari — untuk mempercepat respons terhadap situasi darurat ini. Antara News Sumut

Berdasarkan laporan media setempat hingga 29 November 2025:
- Tercatat 488 kejadian bencana alam di 21 wilayah hukum jajaran polisi. iNews.ID
- Total korban yang terdampak mencapai 1.076 orang. Rinciannya: 147 orang meninggal dunia, 32 luka berat, 722 luka ringan, dan 174 orang masih dalam pencarian. detiknews
- Sebanyak 28.427 jiwa mengungsi, karena rumah terendam, rusak, atau akses dan infrastruktur terputus. iNews.ID
- Korban tewas terus bertambah — data terbaru menyebutkan 176 orang meninggal akibat rentetan bencana. Mistar
Ini menunjukkan bahwa bencana ini telah menjadi tragedi besar, bukan sekadar banjir atau longsor lokal — melainkan krisis skala provinsi.
Salah satu wilayah yang terdampak serius adalah Pangkalan Susu, Langkat , yang menunjukkan bagaimana komunitas lokal merasakan langsung dampak bencana.
- Banjir melanda beberapa desa/kelurahan seperti Desa/kelurahan terdampak, hingga merendam rumah warga setinggi antara sekitar 60 cm sampai 1 meter. Banyak rumah terdampak dan warga dievakuasi. (laporan media lokal)
- Infrastruktur vital lumpuh, terutama jembatan penghubung utama. Sebuah jembatan penting di jalur tersebut dilaporkan ambruk, sehingga akses transportasi dari/ke Pangkalan Susu terputus total. Hal ini mempersulit distribusi logistik dan kebutuhan dasar seperti bahan pokok dan elpiji.
- Akibat putusnya akses, warga banyak yang terisolasi, tergangang suplai dan layanan publik; mobil besar/truk tidak bisa lewat, sementara alternatif terbatas pada jalur darurat darurat.
- Pemerintah kabupaten dan aparat lokal telah menyalurkan bantuan, mendirikan posko darurat, dan mengevakuasi warga terdampak. Namun situasinya tetap rawan, terutama bagi mereka yang rumahnya rusak atau kehilangan sumber daya.
Dengan demikian, Pangkalan Susu mencerminkan gambaran nyata dampak bencana — bukan hanya dari sisi angka, tetapi juga kehidupan sehari-hari warga: tempat tinggal, akses, logistik, dan keselamatan.

Penanganan bencana di Sumut menghadapi banyak kendala:
- Banyak akses jalan dan jembatan yang rusak atau terputus, menyulitkan evakuasi dan distribusi bantuan.
- Infrastruktur komunikasi dan layanan publik seperti listrik terpengaruh, sehingga koordinasi dan pertolongan terhambat.
- Ribuan pengungsi harus ditampung, membutuhkan logistik, air bersih, makanan, layanan kesehatan, dan perlindungan — beban besar bagi pemerintah daerah dan tim SAR.
- Potensi cuaca ekstrem dan banjir susulan membuat situasi tetap genting.
Pihak berwenang, termasuk kepolisian, aparat penanggulangan bencana, dan pemerintah provinsi, telah mengerahkan personel, membuka posko pengungsian, mendirikan dapur umum, dan menyalurkan bantuan. iNews.ID
Namun, mengingat besarnya dampak dan banyaknya wilayah terdampak — upaya evakuasi dan distribusi harus terus diperkuat, dengan dukungan dari masyarakat luas, relawan, serta koordinasi antarpemda.
Para pakar dan instansi menyebut hujan ekstrem yang berlangsung berkepanjangan sebagai penyebab utama — memicu luapan sungai, banjir, dan tanah longsor. Ketika alam sudah jenuh, sistem drainase tidak mampu menampung air, dan sungai meluap.
Ditambah kerusakan atau lemahnya infrastruktur, pemukiman di daerah rawan longsor atau bantaran sungai, dan faktor alam lainnya, membuat dampak menjadi sangat luas dan parah.
Selain itu, ketika bencana terjadi di banyak wilayah sekaligus jalur akses putus, tenaga SAR serta bantuan terpecah, respons menjadi lebih sulit dan lambat.
Dalam kondisi darurat seperti ini, semua pihak harus bersinergi: pemerintah daerah, tim SAR, relawan, dan masyarakat sekitar. Berikut beberapa hal penting:
- Warga di daerah rawan harus waspada; ikuti peringatan cuaca dan instruksi evakuasi bila ada.
- Jika memungkinkan, dokumentasikan kondisi (foto/video) — ini penting untuk pendataan kerusakan, kebutuhan bantuan, dan pemulihan.
- Bagi yang ingin membantu, melalui donasi, distribusi logistik, atau sukarelawan — pastikan koordinasi dengan posko resmi agar bantuan tepat sasaran.
- Pemerintah perlu mempercepat perbaikan infrastruktur: jembatan, jalan, perumahan, serta mitigasi jangka panjang seperti manajemen daerah aliran sungai, reboisasi, drainase, dsb.
- Kesadaran masyarakat tentang bahaya bencana dan mitigasi, termasuk pengelolaan lingkungan dan pemukiman aman, harus ditingkatkan agar dampak seperti ini tidak terus terulang.
Bencana alam yang melanda Sumut akhir November 2025 adalah salah satu krisis kemanusiaan terburuk dalam beberapa tahun terakhir: ratusan korban meninggal, ribuan mengungsi, rumah dan infrastruktur hancur, dan akses terputus. Wilayah seperti Pangkalan Susu di Langkat menunjukkan dampak nyata, tidak hanya statistik, tapi kehidupan sehari-hari warga terguncang.
Meski upaya penyelamatan dan bantuan telah dilakukan, tantangan masih sangat besar. Pemulihan dan rehabilitasi akan membutuhkan waktu dan sumber daya besar. Yang paling penting: solidaritas, koordinasi, dan kesigapan.
Semoga warga terdampak segera mendapatkan bantuan yang dibutuhkan, dan kita bisa bersama-sama membantu pemulihan serta mitigasi agar tragedi serupa tidak terulang.
Referensi:
- detikcom
- detiknews
- Mistar
- INews



