Hari ini tanggal 21 Maret 2022, Dengan memperingati hari Wanita Sedunia yang jatuh pada tanggal 8 maret 2022, dari itu Srikandi Lestari bersama tim dan beberapa perwakilan kelompok untuk berjalan-jalan dan belajar sejarah Negeri tercinta, kali ini kami mengunjungi Propinsi Bengkulu, hal pertama yang kami lakukan adalah melihat Benteng Marlborough yang terletak di Provinsi Bengkulu untuk mengetahui lebih dekat mengenai sejarah.
Kami mengunjungi Benteng Marlborough untuk mengetahui lebih banyak mengenai sejarah Heritage of The British Colonization in Bengkulu,Di awal masuk kami sudah di sambut oleh patung dari Tentara Inggris,di situ tertera EIC (East India Company) merekrut ratusan tentara dari orang-orang (Inggris,India dan Afrika) untuk melindungi mereka dari serangan Belanda dan perlawanan masyarakat Bengkulu itu sediri.
Bangunan Fort Marlborough di bangun oleh tangan-tangan tukang dari India,di bantu penduduk lokal di tanah seluas 44.000 m2, Konstruksi benteng berbentuk kura-kura yang di kelilingi oleh parit buatan sebagai pengaman, dengan ukuran bangunan sekitar 240 x 170 meter, ketinggian dinding bervariasi antara 8 hingga 8.50 meter, ketebalan 1.85 hingga tiga meter dan memiliki 72 meriam pertahanan yang mengarah ke laut lepas untuk menjaga serangan dari armada laut Belanda atau Perancis.
Fort Marlborough itu sendiri atas usulan Joseph Collet,dan di setujui Dewan Direktur EIC pada tahun 1714, maka di mulailah pembangunan benteng tersebut,nama yang di pilih sendiri oleh Joseph Collet adalah Marlborough untuk menghormati John Churchill,komandan Inggris yang pernah memenangkan pertempuran di Blenheim pada tahun 1704, Rammilies pada tahun 1706, Oudenarde tahun 1708, dan Malplaquet pada tahun 1709, atas jasa-jasanya Churchill di beri gelar Duke of Marlborough,dan dari itu Benteng tersebut dikenal dengan nama Fort Marlborough.
Pada abad ke -17 perusahaan dagang Inggris EIC (East India Company), berlayar dengan sebuah kapal yang sangat besar,dengan kapasitas 1000 ton muatan, membawa puluhan awak kapal dan tentara,serta di lengkapi oleh meriam untuk berjaga dari serangan bajak laut maupun kapal dagang lawan seperti Belanda,Perancis dan Portugis,dan Kapal ini berlabuh di Bengkulu pada tahun 1685.
Praktik dan teori ekonomi atau di sebut juga Merkantilisme itu berkembang pada abad ke 15-18, dan berasal dari kata merchant yang artinya pedagang.
Kekayaan alam merupakan alasan mengapa pada tahun 1685 tiga kapal inggris yang bernama The Caesar, The Resolution,dan The Defence, ketiga kapal tersebut berlabuh di Bengkulu,Dengan cara terhormat Kapten J. Andrew menyampaikan maksud kedatangannya kepada Pangeran Muda atau Deapati Bangsa Raja,serta menghadiahkan 8 pucuk meriam yang terdiri dari 4 meriam kecil dan 4 meriam besar, maka terjadilah perjanjian kerjasama perdagangan antara perusahaan dagang Inggris EIC yang di wakili oleh Ralph Ord dengan Raja Bengkulu.

Sejak tahun 1686 EIC Berhasil menguasai dan menjadikan Desa Selebar (sebuah desa yang terletak di dalam daerah Kecamatan Seluma Timur, Kabupaten Seluma,Provinsi Bengkulu, Indonesia)sebagai pangkalan untuk perdagangan lada dan aktifitas perdagangan meningkat secara kualitas dan kuantitas, termasuklah produk agrarian dan hasil hutan lainnya,oleh sebab itu di bangunlah Fort York.
Fort York adalah benteng pertama yang di bangun Inggris pada tahun 1685,didirikan diantara laut dan sungai serut (Muara sungai Bengkulu) Bangunan ini berfungsi sebagai tempat pertahanan utama Inggris (EIC) dalam mempertahankan daerah penghasil rempah-rempahnya dari serangan Belanda dan Perancis.
Di bangunnya benteng menjadi penanda di mulainya kolonialisasi Inggris di Bengkulu, Kolonialisasi adalah pemaksaan suatu bentuk pemerintahan atas sebuah wilayah atau negeri lainnya dan itu biasanya di lakukan secara langsung dan tidak langsung, mulanya mereka akan membeli barang dagangan dari penduduk lokal, namun selanjutnya untuk kelancaran pemasokan barang, mereka akan mulai campur tangan dalam urusan pemerintahan penguasa setempat, dan mulai di jadikan tanah jajahan mereka, dan Negara yang menjajah akan menggariskan panduan tertentu atas wilayah jajahannya meliputi aspek kehidupan social, pemerintahan, undang-undang dan sebagainya.
Karena Lokasi Fort York di dekat sungai dan rawa mangrove yang tidak sehat,mengakibatkan kondisi Fot York menjadi kritis, Bangunan benteng dan barak-barak semakin rapuh, serta air hujan terus menerus membasahi ruangan tempat tinggal para penghuni, Berbagai penyakit,seperti disentri dan malaria menyebabkan sebagian besar prajurit garnisun tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik,Akhirnya Joseph Collet Pemimpin Garnisum Bengkulu di tahun 1712 mengusulkan untuk membangun benteng baru di tempat lain kepada Dewan Direktur EIC.
Jahatnya bangsa Eropa yang menjarah kekayaan alam Bengkulu, karna bangsa Eropa mayoritas menganut femahaman merkantilisme,dan merkantilisme bertujuan mempertahankan kemakmuran negara dengan menjaga kesatuan ekonomi dan control politis.mereka akan melakukan monopoli untuk mendapatkan daerah jajahan baru dan mengontrol semuan sistem perdagangan di wilayah koloninya.
Sejak abad ke-17,Bengkulu terkenal sebagai penghasil lada,karna itu banyak bangsa Nusantara datang untuk menawarkan kerjasama ke wilayah Bengkulu, seperti dari Jawa, Banten, Aceh dan Minangkabau, dan juga pedagang asing dari eropa juga melakukan hal yang sama dengan masyarakat Bengkulu, dan tidak hanya lada, Bengkulu juga memiliki tambang emas, penambangan emas di Bengkulu sudah di mulai jauh sebelum jaman kolonial, terutama di wilayah Lebong itu terletak di wilayah Timur Bengkulu, Lebong berada di ketinggian antara 700-1200 dpl,dan secara fisik berada di gugus bukit barisan.
Lada sendiri memiliki kemewahan tersendiri, dimana pada saat jamuan makan yang di sajikan dengan taburan lada, menunjukkan status sosial orang tersebut, semakin banyak lada yang ditaburkan semakin kaya orang tersebut, bahkan mereka menggunakan wadah perak untuk menyajikan lada,pada abad 16-17 masehi harga 1 karung lada setara dengan menyewa apartemen mewah di London selama 2 tahun dan juga dengan biaya perawatannya,lada dan kapur barus harus digunakan untuk pengawetan jasad Fir’aun pada tahun 1224 SM.
Indonesia memiliki Pesona Jalur Rempah,Indonesia sendiri terkenal dengan rempah-rempahnya,Rempah- rempah di Indonesia menciptakan jalur pelayaran dan perdagangan dunia, Yunani menciptakan jalur perdagangan dengan tujuan utama mencari rempah-rempah sejak 950 SM,Tome Pires sendiri dalam pelyarannya pada tahun 1515 menulis “Pedagang Melayu menyatakan bahwa Tuhan menciptakan Timor untuk kayu cendana,Banda untuk bunga pala dan Maluku untuk cengkeh,dan barang dagangan ini tidak di kenal di tempat lain di dunia.”
Pada zaman Romawi cengkeh jadi bahan tukar menukar oleh bangsa Arab di abad pertengahan (sekitar 1600 Masehi) cengkeh pernah menjadi salah satu rempah yang paling populer dan mahal di Eropa melebihi harga emas, pada era perdagangan rempah dari abad ke-15 harga 1 pon cengkeh sempat setara 7 ons emas di Eropa, pada abad 16-17 masehi harga 1 kilo cengkih = 7 gram emas.
Pala berfungsi sebagai tanaman penghasil minyak atsiri yang digunakan dalam industri pengalengan dan kosmetik, pala sendiri memiliki khasiat yang baik bagi kesehatan, biji pala dapat meringankan semua rasa sakit dan rasa nyeri yang di sebabkan oleh kedinginan dan masuk angin, selain untuk obat pencernaan, biji pala juga berfungsi untuk obat muntah-muntah dan lain-lain.

Sejarah membuktikan, aroma rempah telah mengundang penjelajah dunia, membangun hubungan dagang antar bangsa, bahkan memicu lahirnya kolonialisme, Dunia dan peradapan berubah karena rempah, Rempah membawa perubahan besar, mulai dari perubahan tradisi kuliner, pengawetan, kosmetik dan pengobatan, bahkan rempah menjadi pampasan dan alat tukar politik dalam perjanjian antar negara.
Rempah memang mengharumkan nama Nusantara, namun selain berkah keharuman rempah juga menjadi bencana bagi bangsa-bangsa Nusantara, Bangsa-bangsa Nusantara merasakan pedihnya penjajahan kolonial selama berabd-abad akibat rempah-rempah.
Dan karena rempah jugalah yang mengundang kedatangan Inggris ke Bengkulu, demi mendapatkan rempah, EIC mencari daerah yang memiliki kekayaan rempah sekaligus pangkalan yang secara politik dan militer menguntungkan mereka, keberadaan Inggris di Bengkulu berlangsung hampir 140 tahun, sejak tahun 1685 dan berakhir dengan adaanya Traktad London di tahun 1824.
Setelah Traktad London 17 maret 1824 yang mengatur pertukaran kekuasan Inggris di Bengkulu dengan kekuasaan Belanda di Malaka dan Singapura perdagangan rempah Bengkulu dikuasai oleh kolonial Belanda di tahun 1833 Pemerintah Hindia Belanda memberlakukan tanam paksa komoditi kopi.
Itulah cerita tentang benteng Marlborough setiap Propinsi pasti punya sejarah tersendiri dari sejarah tersebut dapat kita simpulkan bahwa sangat lah mudah bangsa lain untuk menjajah kalau kita tidak bersatu indah nya negeri ini jangan sampai dikuasai kembali oleh bangsa asing.
Cerita kami nantinya akan terus berlanjut tidak sampai disini dan ini bagian dari upaya Srikandi Lestari memberikan pemahaman tentang sejarah maupun tentang lain nya.
#Salam setara dan lestari#