
Sejak beroperasinya pembangkit listrik bertenaga batu bara, laut sekitaran Pangkalan Susu mengalami kenaikan suhu yang menyebabkan kepiting, udang dan ikan sulit didapatkan oleh para nelayan.
Dalam dokumen Analisis Dampak Lingkungan Hidup (ANDAL) Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Pangkalan Susu tertulis, jika limbah cair yang biasa disebut dengan air bahang memiliki suhu 37-38 derajat celcius ketika dikeluarkan menuju laut. Namun tim Srikandi Lestari menemukan hal berbeda, ketika dicek langsung pada mulut pembungan air bahang, suhu tersebut mencapai 42 derajat celcius dan ini merupakan pelanggaran.
Srikandi Lestari telah mencoba melapor pada GAKKUM KLHK, namun sampai postingan ini terbit belum juga datang balasan atau respon dari pemerintah terkait pelanggaran yang mencemari lingkungan hidup.