
Deli Serdang, 19 November 2025 – Di pesisir Pantai Labu desa rugemuk, para nelayan perempuan kini hidupnya tertekan karena abrasi pantai yang kian parah dan aktivitas kapal pukat katrol yang menrusak laut juga merampas wilayah tangkap bagi nelayan tradisional, sehingga beberapa tahun belakangan ini penghidupan mereka semakin lama terancam.
Menurut penuturan warga setempat, sebagian besar perempuan nelayan di desa ini menghabiskan hari-hari mereka dengan mencari udang dan kerang. Untuk mendapatkan udang, mereka berjalan kaki di perairan dangkal sejauh 500meter hingga 1kilometer dari bibir pantai sambil membawa alat tangkap udang tradisional bernama langgai.
Kegiatan itu bergantung pada kondisi pasang surut, dan mereka kerap menghadapi risiko ombak besar saat mencari hasil laut.
Untuk mencari kerang, para nelayan perempuan biasanya menyewa boat dengan biaya Rp10.000–Rp20.000, tergantung jarak lokasi tangkap. Namun, hasil tangkapan kini semakin menipis akibat keberadaan kapal pukat katrol atau disebut warga setempat “cakar besi.”
Kapal-kapal ini merusak dasar laut dan membuat kerang sulit ditemukan di wilayah tangkap tradisional. Akibatnya, sebagian nelayan perempuan terpaksa berlayar lebih jauh ke belawan, sementara yang lain memilih mencari kerang kecil di bibir pantai, yang mereka sebut “buah tanah.”
Hasil dari “buah tanah” itu pun tak seberapa. Dalam sehari, mereka hanya mampu mengumpulkan 1–2 kilogram kerang kecil, dengan harga jual antara Rp10.000 hingga Rp15.000 per kilogram. Dengan bermodal parang, wadah ember dan alas mereka mengais lumpur untuk mencari kerang atau mereka menyebutnya dengan sebutan buah tanah.
“Semasa sehat ibu sempat mencari kayu bakar untuk dijual dan terkadang melaut ikut suami mencari kerang, faktor usia sekarang ibu hanya bisa mencari buah tanah di pesisir pantai dan kerang hanya bisa dicari pada saat air surut” tutur ibu Sapariyah, salah satu nelayan perempuan yang tengah mengais kerang.
Tak hanya pukat katrol yang menjadi ancaman para nelayan namun, abrasi juga perlahan merebut ruang hidup masyarakat. Hutan mangrove menjadi benteng utama bagi abrasi pantai, Pohon bakau salah satu hutan mangrove yang hidup di pesisir rugemuk menjadi tempat hidup berbagai biota laut seperti kepiting, kerang dan udang kecil. Akar-akar bakau yang rapat memberi perlindungan dan ruang berkembang biak bagi hewan-hewan ini. Yang seharusnya masyarakat bisa memanfaatkannya kini hilang diakibatkan abrasi yang kuat.

Pada tahun 2004 terjadi tsunami aceh dan efek dari kerusaka tsunami berdampak sampai disini, terutama untuk hutan bakau yang ada di pesisir pantai namun ini hanya pemicu dari kerusakan hutan bakau yang ada di pesisir.
Akibat dari terkikisnya hutan bakau maka tak ada lagi yang bisa menghentikan ombak laut, abrasi pantai telah menghancurkan sejumlah rumah warga, menyisakan hanya puing-puing bangunan di sepanjang garis pantai.

Padahal, dulu kawasan ini dilindungi oleh ratusan pohon bakau yang berfungsi menahan gelombang laut. Kini, tak lebih dari 20 batang yang tersisa fakta nyata hilangnya benteng alami dipesisir.
“Dulu sudah sempat ditanami Kembali bibit bakau namun habis terseret oleh besarnya ombak, akhirnya tak adalagi regenerasi pohon baru sehingga air laut terus mengikis bibir pantai” ucap pak efendi selaku warga desa regemuk.
Hilangnya bakau mempercepat abrasi dan memperburuk nasib nelayan perempuan, yang tak hanya kehilangan hasil laut, tapi juga kehilangan ruang hidup mereka.




