
Pulau Sembilan terletak di Kabupaten Langkat, Sumatra Utara. Untuk mencapai tempat itu, kita mesti menaiki sampan berbahan bakar solar dan menyewanya dengan harga Rp. 10.000/orang. Bisa pula sampannya membawa sepeda motor, namun mesti membayar tenaga masyarakat, tak banyak, hanya Rp. 5.000.
Dalam mengarungi teluk Ara, sampan melaju tinggalkan pelabuhan Pangkalan Susu. Setelah menginjak daratan, kami menghampiri Ketua Nelayan Pulau Sembilan, Munawar. Teh hangat bersama desiran angin laut dan air yang bergelombang, mengiringi obrolan santai terkait aktivitas Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara.
Ia mengeluhkan, limbah hasil dari pembakaran batu bara yang langsung menuju lautan dan mengganggu pergerakan nelayan mempertahankan hidupnya. Tentu, ikan-ikan mulai mendekati tengah laut, sebab perairan sekitar PLTU tak lagi menghasilkan.
Selain itu, kami pun menghampiri Syahril, seorang nelayan yang sempat mendapatkan teror dari aparat keamanan PLTU yang mendapat tembakkan peringatan. Lebih tragisnya lagi, para nelayan dilarang mencari ikan dekat PLTU. Pihak keamanan itu melarang dengan dalih banyak barang yang hilang.
Kemudian, Mukhtar juga memberikan keterangannya yang tidak boleh memancing di sekitar PLTU Pangkalan Susu. Padahal sebelum adanya pembangkit itu, tak ada yang melarang nelayan menangkap ikan.
Dari segi pertaniannya, Pak Min mengalami gagal panen. Dirinya belum bisa mengetahui pasti penyebab terjadinya itu, ia hanya menerka jika iklim saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tak hilang semangat, Pak Min menanam bibit super guna mengurangi gagal panen, namun hasilnya sama saja dan ia terus merugi. Khamarudin, seorang petani yang tak jauh berbeda dengan Pak Min, juga kerap didatangi gagal panen.
Setelah menghampiri petani dan nelayan, kami pun mengunjungi puskesmas yang berada di Pulau Sembilan Dusun 1. Di sana kami menemukan data masyarakat yang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan penyakit kulit yang menimpa anak-anak hingga orang dewasa.