
Tapanuli Tengah, 29 September 2025– Kehidupan masyarakat pesisir di sekitar PLTU Labuhan Angin kian terhimpit. Setelah penghasilan nelayan merosot akibat berkurangnya hasil tangkapan laut, banyak keluarga yang mengambil jalan pintas dengan meminjam uang dari rentenir.
Warga mengaku kini harus meminjam uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pinjaman kecil dari rentenir, misalnya Rp500 ribu, dibayar dengan cicilan Rp20 ribu per hari selama 30 hari. Sementara pinjaman yang lebih besar, antara Rp1 juta hingga Rp2 juta, juga banyak diambil meski dengan bunganya hingga 15%.
Sebagian warga bahkan memilih pinjaman dari Permodalan Nasional Madani (PNM) dengan nominal Rp5–7 juta. Namun, bunga efektif yang mencapai hampir 19% per tahun membuat beban pembayaran semakin berat. Akibatnya, warga terjebak dalam pola “gali lubang tutup lubang”, meminjam di satu tempat untuk menutup cicilan di tempat lain.
Dampaknya tidak hanya finansial, tetapi juga sosial. Banyak suami yang tidak mengetahui bahwa istrinya berutang. Ketika ketahuan, konflik rumah tangga sering kali pecah. “Kadang uang pinjaman untuk bayar sekolah anak, kadang untuk beli beras. Tapi kalau penghasilan tidak ada, bagaimana bisa mengembalikan?” ujar Hasmidar, istri seorang nelayan.
Situasi ini menimbulkan tekanan sosial. Banyak ibu rumah tangga mengaku bersembunyi saat rentenir datang menagih, bahkan anak-anak diajari berbohong demi melindungi orang tuanya. Tidak jarang, konflik rumah tangga muncul ketika suami mengetahui istrinya diam-diam berutang.
“Kami dulu bisa hidup dari laut. Sekarang hasilnya tak cukup, jadi mau tak mau harus pinjam. Kalau tidak, kami tidak bisa penuhi kebutuhan anak-anak,” ungkap Novita, salah satu nasabah dan pencari kerang.
Sumiati Surbakti, sekalu pegiat lingkungan menilai fenomena ini menunjukkan rapuhnya perlindungan ekonomi bagi masyarakat terdampak proyek energi kotor. “Pendapatan menurun, tapi beban hidup makin besar. Masyarakat akhirnya jatuh ke jeratan utang seumur hidup,” ujar nya.
Hingga kini, pihak PLTU Labuhan Angin belum memberikan tanggapan terkait dampak sosial ekonomi yang dialami masyarakat sekitar.
Hidup di bawah bayang-bayang PLTU bagi warga Tapanuli Tengah bukan hanya soal kehilangan laut dan penghasilan, tetapi juga kehilangan martabat karena terjerat utang. Utang yang awalnya dianggap penyelamat, kini menjadi jerat yang membuat mereka kian sulit bernafas.
Energi yang katanya untuk pembangunan, justru membuat masyarakat pesisir jatuh dalam lingkaran kemiskinan. Pertanyaannya: sampai kapan mereka harus menanggung biaya mahal dari listrik yang bahkan tidak mereka nikmati?




