
Aceh Tamiang, 30 Januari 2025— Upaya pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan pembangunan kembali infrastruktur, tetapi juga memastikan masyarakat, terutama kelompok rentan, tetap terlindungi dari berbagai risiko sosial. Berangkat dari hal tersebut, Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menggelar kegiatan pendampingan psikososial kepada 55 perempuan di Desa Pulau Tiga, Kecamatan Tamiang Hulu, dengan fokus pada sosialisasi Kekerasan Berbasis Gender (KBG) bagi perempuan.
Kegiatan ini mengedepankan pendekatan edukatif melalui pembagian brosur dan buku panduan yang dirancang dengan bahasa sederhana dan mudah dipahami. Materi tersebut membantu peserta mengenali bentuk-bentuk kekerasan, memahami faktor risiko yang meningkat setelah bencana, serta mengetahui langkah perlindungan dan jalur pengaduan apabila menghadapi situasi tidak aman.
Para peserta tampak aktif membaca materi yang dibagikan, lalu mendiskusikannya bersama fasilitator. Banyak di antara mereka menaruh perhatian pada informasi mengenai hak-hak perempuan serta pentingnya keberanian untuk melapor jika terjadi kekerasan.

Situasi pascabencana sering menghadirkan tantangan baru bagi masyarakat. Perubahan pola hidup, tekanan ekonomi, hingga keterbatasan ruang tinggal dapat meningkatkan kerentanan terhadap kekerasan, baik di dalam rumah tangga maupun di lingkungan sosial.
Hunian sementara yang padat, minim privasi, serta berkurangnya akses terhadap layanan perlindungan membuat perempuan berada dalam posisi yang lebih rentan. Dalam kondisi seperti ini, pengetahuan menjadi benteng pertama untuk memberi kemampuan bagi masyarakat dalam mengenali tanda bahaya dan mengambil tindakan pencegahan.
Melalui sosialisasi ini, YSL menegaskan bahwa kekerasan tidak dapat dibenarkan dalam keadaan apa pun, termasuk saat krisis. Kesadaran kolektif dinilai penting untuk menciptakan lingkungan yang saling menjaga dan aman bagi semua.
Selain edukasi, kegiatan ini juga menghadirkan pendampingan psikososial yang memberi ruang bagi perempuan untuk berbagi pengalaman dan mengungkapkan perasaan mereka setelah bencana. Dialog kelompok mendorong terbentuknya dukungan sosial antarwarga, sebuah elemen penting dalam proses pemulihan emosional.
Untuk melengkapi dukungan tersebut, YSL turut menyalurkan bantuan pangan kepada para peserta yang hadir. Bantuan ini diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kebutuhan dasar keluarga terdampak, sekaligus membantu mengurangi tekanan ekonomi yang kerap muncul setelah bencana.

Langkah ini mencerminkan pendekatan pemulihan yang menyeluruh: tidak hanya memperkuat aspek pengetahuan dan kesehatan mental, tetapi juga memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi.
“Ketika perempuan merasa aman secara emosional dan kebutuhan dasarnya terpenuhi, mereka akan lebih siap berperan dalam menjaga ketahanan keluarga,” ujar Sumiati Surbakti, Direktur Yayasan Srikandi Lestari
Kegiatan di Desa Pulau Tiga menjadi pengingat bahwa pemulihan sejati berangkat dari masyarakat yang terlindungi dan berdaya. Melalui kombinasi edukasi, pendampingan, dan bantuan pangan, YSL berharap kesadaran tentang pentingnya pencegahan kekerasan dapat terus tumbuh di tengah komunitas.
Dengan membawa pulang brosur dan buku panduan, peserta diharapkan dapat membagikan kembali pengetahuan tersebut kepada keluarga dan lingkungan sekitar. Langkah kecil ini diyakini mampu memperkuat kewaspadaan bersama sekaligus membangun budaya saling peduli.
Ke depan, inisiatif serupa diharapkan dapat membantu masyarakat tidak hanya bangkit dari bencana, tetapi juga menjadi lebih tangguh, inklusif, dan responsif terhadap perlindungan perempuan dan anak dalam setiap situasi.




