YSL Gelar Diskusi Keadilan Energi

Medan – Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menggelar diskusi malam solidaritas untuk keadilan energi di literacy coffee, Jalan Jati II, Teladan Timur, Medan Kota. Selasa (28/02).

Diskusi yang bertema “Penggunaan Panel Surya Menjawab Kebutuhan Listrik di Wilayah Sumatera Utara” menghadirkan tiga orang pembicara yaitu, Direktur Eksekutif Yayasan Srikandi Lestari Mimi Surbakti, Pendiri Perempuan Hari Ini Lusty Malau dan seorang penulis Diana Srimilana Saragih.

Dalam penjelasan Direktur Eksekutif YSL mengatakan dalam rancangan kebutuhan energi daerah, ada alokasi untuk energi terbarukan.

“Sayangnya, yang dirancang energi terbarukan lebih banyak kepada persoalan panas bumi dan tenaga air. Kita tahu pembangkit listrik panas bumi, air merupakan energi terbarukan, namun apakah sudah berkeadilan?” Ujar Mimi.

Mimi melihat pembangkit listrik tenaga air yang ada di Batang Toru adalah energi terbarukan namun belum berkeadilan, sebab dalam proses pembangunannya malah menggusur hutan.

Kemudian, Diana yang merupakan penulis dan pembuat film memaparkan pandangan terkait iklim saat ini yang sudah tidak menentu dan merugikan masyarakat.

“Sebagai penulis dan pembuat film, kita membutuhkan dukungan dari banyak pihak, khususnya anak muda. Ada film dokumenter yang dibuat dengan baik sudah cukup menjadi senjata untuk mendesak pemerintah membuat kebijakan,” ucap Diana.

Selanjutnya, pendiri komunitas Perempuan Hari Ini, Lusty melihat dari sisi ecofeminisme yang menurutnya perempuan adalah kelompok sangat terdampak dari kerusakan lingkungan

“Ecofeminisme dijadikan sudut pandang mendasar dalam menjaga lingkungan, maka kita akan berhenti mengkotak-kotakan antara laki-laki dan perempuan. Karena pemikirannya bakal memperdayakan perempuan,” ungkap Lusty.

Tak hanya itu, Rimba peserta diskusi dari elemen mahasiswa pun mengapresiasi kegiatan diskusi keadilan energi.

“Diskusi ini menarik, karena terkait keadilan energi di Sumut, saya berharap kegiatan seperti ini bisa rutin diselenggarakan dan melahirkan aksi untuk lingkungan,” kata Rimba mahasiswa STIK-P Medan.

Terakhir, para pembicara menaruh harapan kepada semua pihak untuk ikut bersama menyelamatkan lingkungan yang sedang rusak.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top