
Langkat, 2 Juli 2025 — Dalam upaya memperluas akses masyarakat akar rumput terhadap dukungan ekonomi dan sosial, Yayasan Srikandi Lestari (YSL) melakukan audiensi dengan Dinas Koperasi Kabupaten Langkat pada Rabu, 2 Juli 2025. Pertemuan ini bertujuan membahas peluang kolaborasi dalam penguatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) komunitas dampingan YSL, khususnya kelompok rentan yang selama ini menjadi fokus utama pemberdayaan organisasi.
Audiensi ini menjadi langkah awal penjajakan kerja sama strategis antara organisasi masyarakat sipil dan pemerintah daerah dalam upaya meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat melalui jalur kewirausahaan berbasis komunitas.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan YSL, Sumiati, memaparkan sejumlah inisiatif ekonomi komunitas yang telah dijalankan bersama kelompok dampingan. Salah satu produk unggulan yang diperkenalkan adalah eco-print, yaitu kain dan produk fashion yang diwarnai secara alami menggunakan daun dan bunga lokal. Produk ini tidak hanya memiliki nilai jual, tetapi juga mencerminkan prinsip keberlanjutan dan pemanfaatan sumber daya lokal yang ramah lingkungan.
Selain eco-print, YSL juga mendampingi kelompok-kelompok usaha yang bergerak di bidang pengolahan sabut kelapa, hasil pertanian, dan produk kreatif rumah tangga lainnya. Produk-produk tersebut telah menunjukkan potensi untuk berkembang apabila didukung dengan sarana produksi dan pelatihan yang memadai.
Pihak Dinas Koperasi, melalui Kepala Sub Bidang UMKM, menyambut baik inisiatif kolaboratif yang ditawarkan oleh YSL. Dinas menyampaikan bahwa mereka memiliki program bantuan alat usaha yang dapat disalurkan kepada kelompok-kelompok UMKM sesuai kebutuhan. Bantuan tersebut bersifat non-tunai dan disesuaikan dengan jenis usaha, seperti mesin produksi makanan, mesin sabut kelapa, mesin perahu, hingga freezer penyimpanan hasil produksi.
Adapun mekanisme pengajuan bantuan meliputi penyusunan proposal resmi yang dilengkapi dengan dokumen pendukung, yakni, dokumentasi usaha yang sedang berjalan, dan persyaratan kelompok minimal lima orang. Proposal tersebut akan menjadi dasar evaluasi Dinas dalam menyesuaikan bentuk bantuan yang paling relevan.

“Kami terbuka untuk menjalin kerja sama. Jika kelompok dampingan YSL sudah siap, silakan ajukan proposal resmi. Nantinya kita bisa menjadwalkan kunjungan bersama Kepala Dinas untuk melihat langsung kegiatan komunitas,” ujar perwakilan Dinas dalam audiensi tersebut.
Selain dukungan berupa alat usaha, Dinas Koperasi juga memiliki program pelatihan yang mencakup strategi pemasaran digital, pengemasan produk (packaging), dan peningkatan mutu usaha. Biasanya, Dinas juga menyelenggarakan pameran tahunan untuk mempertemukan pelaku UMKM lokal dengan pasar yang lebih luas. Meskipun tahun ini pameran ditiadakan karena efisiensi anggaran, kolaborasi seperti ini diharapkan dapat membuka ruang bagi UMKM dampingan YSL untuk tampil dalam forum serupa ke depannya.
Perwakilan YSL, Bu Mimi, juga menambahkan bahwa kelompok dampingan di wilayah Bulu Cina telah memiliki pengalaman dalam mengelola bantuan sebelumnya, seperti penggunaan CSR untuk membangun sarana air bersih. Hal ini menunjukkan bahwa komunitas dampingan YSL telah memiliki kapasitas dasar dan kesiapan untuk mengelola dukungan lanjutan secara mandiri dan bertanggung jawab.
Audiensi ini menandai babak baru bagi YSL dalam memperkuat sinergi lintas sektor untuk mendukung kemandirian ekonomi komunitas, terutama kelompok perempuan yang rentan secara sosial dan ekonomi. Melalui pendekatan berbasis komunitas, kerja sama dengan Dinas Koperasi diharapkan tidak hanya berkontribusi pada pertumbuhan usaha skala kecil, tetapi juga memperkuat struktur sosial dan daya tahan ekonomi masyarakat lokal di tengah tantangan perubahan sosial dan iklim.