
Langkat, 1 Desember 2025 – Banjir besar yang melanda wilayah Sumatera Utara, termasuk Kecamatan Pangkalan Susu, menimbulkan dampak yang sangat berat bagi ribuan warga. Sejak banjir meluas pada 26 November lalu, banyak rumah di beberapa desa di pesisir Langkat terendam hingga setengah dinding rumah. Warga kehilangan barang berharga, tidak dapat bekerja, dan akses transportasi menuju Pangkalan Susu pun sempat terputus. Kondisi ini membuat pasokan bahan pangan ke daerah tersebut lumpuh.
Untuk merespons situasi genting tersebut, Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menyalurkan bantuan sembako kepada warga di Desa Sei Siur, Lubuk Kertang, Pintu Air, dan Tanjung Pasir, wilayah yang terdampak paling serius akibat banjir. Bantuan tersebut terdiri dari mi instan, minyak goreng, dan telur, kebutuhan pokok yang menjadi barang langka selama banjir berlangsung.
Akses jalan menuju Pangkalan Susu sempat terendam dan tidak bisa dilalui kendaraan, membuat distribusi logistik tersendat dan mengakibatkan krisis ketersediaan bahan makanan. Warga yang sebelumnya masih bisa mengandalkan kios-kios kecil kini harus menghadapi kenaikan harga yang tidak wajar.
Mita Lumban Gaol, salah satu warga Desa Lubuk Kertang, menceritakan bagaimana sulitnya kondisi yang mereka hadapi.
“Sejak 28 November, sembako sangat sulit ditemukan. Kalau pun ada yang jual, harganya mahal sekali, bisa tiga kali lipat dari biasanya. Minyak goreng pun tidak bisa dicari, telur juga tidak ada yang menjual. Kami benar-benar bingung harus makan apa,” ujarnya Mita.
Selain kekurangan pasokan pangan, warga juga tidak dapat bekerja akibat banjir. Banyak nelayan tidak bisa melaut, pekerja tambak tidak dapat beraktivitas, dan pedagang kecil kehilangan pendapatan karena pasar tidak beroperasi normal.
Melihat situasi yang semakin kritis, YSL mendistribusikan bantuan ke desa-desa terdampak. Direktur YSL, Sumiati Surbakti, menegaskan bahwa bantuan ini merupakan langkah cepat untuk memastikan warga tidak mengalami kelaparan akibat banjir.
“Kami menerima banyak laporan bahwa warga kesulitan mendapatkan makanan. Akses putus, pendapatan berhenti, harga melonjak, ini situasi darurat yang harus segera direspons. YSL bergerak ke lapangan untuk memastikan kebutuhan paling dasar, yaitu pangan, bisa segera sampai ke keluarga-keluarga yang terdampak,” ujar Sumiati.

Sementara itu, Sumaiti mengatakan bahwa kebutuhan masyarakat masih sangat besar dan bantuan pangan perlu terus didistribusikan beberapa hari ke depan.
“Bantuan hari ini sangat membantu, tapi kondisi di lapangan menunjukkan kebutuhan warga masih banyak. Banyak anak-anak yang kekurangan makanan bergizi, ibu-ibu tidak bisa memasak karena dapur rusak, dan sebagian rumah masih terendam. Bantuan lanjutan sangat diperlukan,” kata Sumiati.
Ia juga mengimbau pihak-pihak lain untuk turut berperan serta, baik melalui donasi maupun bantuan logistik lainnya seperti pakaian, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan kebersihan.
Melihat besarnya kebutuhan dan lambatnya pemulihan, YSL kembali membuka donasi bantuan bagi warga terdampak. Masyarakat luas dapat berpartisipasi melalui rekening:
Yayasan Srikandi Lestari — Bank BRI
No. Rekening: 7323-01-009079-53-2
Sumiati menegaskan bahwa bantuan apapun akan sangat berarti bagi warga yang hingga kini masih berjuang memulihkan kehidupan mereka.
“Kami mengajak siapa pun yang tergerak untuk ikut membantu. Situasi di Pangkalan Susu belum pulih. Solidaritas kita sangat dibutuhkan untuk memastikan semua keluarga dapat bertahan sampai keadaan normal kembali,” tutupnya.




