
Langkat, 3 Desember 2025 — Kondisi warga di enam desa terdampak banjir di Kabupaten Langkat—Kwala Serapuh, Kwala Langkat, dan wilayah Pangkalan Susu (Pintu Air, Sei Siur, Lubuk Kertang) masih memprihatinkan. Meski banjir telah berlangsung lebih dari sepekan dan sejumlah lembaga masyarakat sipil mulai menyalurkan bantuan, namun kebutuhan dasar bagi kelompok rentan masih belum terpenuhi.
Warga mengaku belum menerima bantuan apa pun dari pemerintah, terutama untuk kebutuhan kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan hamil, dan lansia. Sudah lebih dari sepekan mereka bertahan tanpa dukungan logistik, layanan kesehatan, maupun perlengkapan dasar, sementara kondisi banjir justru memunculkan risiko baru seperti penyakit kulit, kelaparan, serta hilangnya perlengkapan sekolah dan pakaian. Ketidakadaan intervensi ini membuat masyarakat sepenuhnya mengandalkan lembaga sosial dan relawan yang turun langsung ke lokasi bencana.
Salah satu kondisi paling mencolok adalah belum adanya bantuan khusus bagi anak-anak, perempuan hamil, dan lansia kelompok yang paling rentan terdampak bencana. Hingga hari ini, bantuan yang masuk sebagian besar berupa sembako, namun tidak mencakup kebutuhan spesifik seperti susu bayi, makanan tambahan anak, vitamin, ataupun perlengkapan higienis untuk ibu hamil.
Di Desa Kwala Serapuh, puluhan anak mengalami keluhan kesehatan karena genangan air kotor dan paparan lumpur. Persediaan makanan bergizi bagi keluarga dengan balita juga terbatas.
Kondisi kebersihan yang buruk membuat penyakit gatal-gatal dan infeksi kulit merebak di banyak rumah, terutama pada anak-anak yang terus kontak dengan air banjir. Ironisnya, hingga kini belum ada distribusi obat-obatan dasar seperti salep antiseptik, obat antihistamin, maupun obat flu dan diare.
Warga juga mengkhawatirkan potensi penyakit demam berdarah dan leptospirosis karena banyaknya genangan air dan bangkai hewan yang belum dibersihkan.
Di Desa Kwala Langkat, sebagian lansia terpaksa tetap bertahan ditengah minimnya bahan makanan. Ketiadaan listrik selama lebih dari 10 hari membuat mereka kesulitan mengakses informasi, dan menghubungi keluarga untuk meminta bantuan.
Selain kebutuhan pangan dan kesehatan, anak-anak di enam desa juga menghadapi masalah pendidikan. Banyak tas, buku, seragam, dan alat tulis yang rusak atau hanyut akibat terendam air banjir. Hingga kini, belum ada bantuan berupa perlengkapan sekolah, padahal kegiatan belajar kemungkinan akan segera dimulai setelah banjir surut.
Di enam desa tersebut, banyak warga yang masih bertahan dengan pakaian yang sama selama beberapa hari. Pakaian ganti, selimut hangat, serta perlengkapan kebersihan seperti sabun, sampo, pembalut, dan diapers masih sangat kurang. Mereka berharap adanya distribusi bantuan sandang yang lebih memadai.
Hingga awal Desember, warga menyampaikan bahwa belum ada bantuan dari pemerintah, baik berupa logistik, layanan kesehatan, maupun asesmen kebutuhan. Mereka masih bergantung pada bantuan lembaga non-pemerintah seperti yayasan sosial.
Kondisi ini membuat kebutuhan kelompok rentan menjadi semakin mendesak, terutama bagi anak-anak, balita, ibu hamil & menyusui, lansia dan penyandang disabilitas
Melihat kondisi di lapangan, warga dan relawan meminta agar pemerintah segera mengirim bantuan khusus untuk kelompok rentan, terutama pangan bergizi dan susu bayi, vitamin dan makanan tambahan, obat-obatan (gatal-gatal, flu, diare, antiseptik), pakaian & selimut, peralatan sekolah dan perlengkapan kebersihan dan sanitasi.




