
Aceh Tamiang, 30 Januari 2026 — Sebagai upaya memperkuat perlindungan bagi perempuan di tengah masa pemulihan bencana, Yayasan Serasi Lestari (YSL) mengadakan kegiatan pendampingan psikososial yang disertai edukasi mengenai Kekerasan Berbasis Gender (KBG) di Desa Alur Selebu. Program ini dirancang untuk membantu masyarakat memahami risiko sosial yang kerap muncul setelah bencana sekaligus membangun lingkungan yang lebih aman dan suportif.
Kegiatan berlangsung dalam suasana interaktif. Alih-alih hanya menyampaikan materi secara satu arah, fasilitator mengajak peserta berdialog tentang pengalaman mereka selama masa darurat, termasuk perubahan dinamika keluarga dan tantangan yang dihadapi perempuan dalam menjaga stabilitas rumah tangga.
Sebagai bagian dari sosialisasi, YSL membagikan buku saku dan lembar informasi berisi penjelasan praktis mengenai apa itu kekerasan berbasis gender, bagaimana mengenalinya, serta langkah yang dapat dilakukan untuk mencari pertolongan. Materi ini dirancang agar mudah dipahami dan dapat menjadi referensi jangka panjang bagi masyarakat.

Bencana sering kali meninggalkan persoalan yang tidak langsung terlihat. Ketika kehidupan berubah secara tiba-tiba, penghasilan terganggu, tempat tinggal rusak, dan rasa aman menurun, tekanan dalam keluarga dapat meningkat. Situasi tersebut berpotensi memicu konflik hingga kekerasan apabila tidak diantisipasi dengan baik.
Selain itu, keterbatasan ruang pribadi dan melemahnya sistem perlindungan komunitas dapat membuat perempuan enggan berbicara ketika menghadapi perlakuan tidak adil. Karena itu, meningkatkan pemahaman masyarakat menjadi langkah preventif yang penting.
Dalam sesi diskusi, fasilitator menekankan bahwa pencegahan kekerasan bukan hanya tanggung jawab individu, melainkan juga tanggung jawab bersama. Komunitas yang peduli dinilai mampu menjadi garis perlindungan pertama bagi anggotanya.
Tidak sedikit peserta yang memanfaatkan kesempatan ini untuk berbagi cerita. Beberapa mengungkapkan bahwa pascabencana mereka kerap diliputi kekhawatiran terhadap masa depan keluarga. Melalui pendampingan psikososial, para ibu diajak mengenali cara sederhana mengelola stres serta pentingnya saling mendukung di tengah situasi sulit.
Pendekatan ini membantu peserta menyadari bahwa mereka tidak sendiri. Kehadiran ruang aman untuk berbicara menjadi langkah awal dalam membangun kembali rasa percaya diri dan ketahanan emosional.
Direktur YSL menegaskan bahwa perlindungan dan kesejahteraan harus berjalan beriringan. “Pemulihan tidak cukup hanya membangun kembali apa yang rusak. Kita juga perlu memastikan setiap orang merasa aman, dihargai, dan memiliki pengetahuan untuk melindungi diri,” ujarnya.
Melalui kegiatan di Desa Alur Selebu, YSL ingin mendorong tumbuhnya kesadaran bahwa keamanan perempuan merupakan bagian penting dari ketahanan masyarakat secara keseluruhan. Ketika perempuan terlindungi, keluarga menjadi lebih kuat, dan komunitas pun lebih siap menghadapi tantangan di masa depan.
Inisiatif ini menjadi pengingat bahwa proses bangkit dari bencana bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga sosial dan psikologis. Dengan bekal pengetahuan, dukungan emosional, dan bantuan yang tepat, masyarakat diharapkan mampu melangkah maju dengan rasa percaya diri yang baru.
Ke depan, YSL berkomitmen untuk terus menghadirkan program yang memperkuat kapasitas masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya saling menjaga, agar setiap individu dapat hidup dengan aman, bahkan di tengah situasi yang penuh ketidakpastian.




