Yayasan Srikandi Lestari Perkuat Upaya Pencegahan TPPO melalui Partisipasi dalam ARAT Conference 2026 di Thailand

Chiang Mai, Thailand – Yayasan Srikandi Lestari (YSL) berkesempatan mengikuti Asia Region Anti-Trafficking (ARAT) Conference 2026 yang diselenggarakan di Chiang Mai, Thailand. Dalam forum regional tersebut, Yayasan Srikandi Lestari diwakili oleh Dewi Hairani, Manajer Program YSL, sebagai bagian dari komitmen organisasi dalam memperkuat upaya pencegahan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan perbudakan modern, baik di tingkat regional maupun lokal.

Keikutsertaan YSL dalam konferensi ini bertujuan untuk memperluas jejaring kerja sama lintas negara dengan organisasi masyarakat sipil, akademisi, praktisi, hingga komunitas penyintas dari berbagai negara di Asia. Melalui kolaborasi tersebut, YSL berharap dapat memperkuat penanganan kasus perdagangan orang yang bersifat transnasional sekaligus memperkaya strategi perlindungan bagi kelompok rentan di Indonesia.

Dewi Hairani menjelaskan bahwa ARAT Conference 2026 menjadi ruang pembelajaran penting untuk mengadopsi berbagai praktik terbaik (best practices) dalam penanganan TPPO, termasuk pendekatan pemulihan berbasis kepemimpinan lokal dan penyintas (survivor-led solutions). Pengetahuan tersebut diharapkan dapat diterapkan dalam program-program pendampingan yang dijalankan Yayasan Srikandi Lestari, khususnya di Sumatera Utara.

“Melalui konferensi ini kami memperoleh banyak pembelajaran mengenai tren terbaru, hasil riset, hingga strategi kolaboratif dalam menangani perdagangan orang. Pengalaman tersebut akan menjadi bekal untuk memperkuat kapasitas organisasi dalam pendampingan hukum, layanan psikososial, serta upaya pencegahan di tingkat masyarakat,” ujar Dewi Hairani.

Selain meningkatkan kapasitas organisasi, keikutsertaan dalam ARAT Conference 2026 juga menjadi momentum bagi Yayasan Srikandi Lestari untuk memperkuat strategi penanggulangan TPPO dan perbudakan modern melalui pendekatan yang komprehensif.

Pada tingkat akar rumput, YSL secara aktif melaksanakan edukasi pencegahan kekerasan berbasis gender (KBG) dan TPPO di berbagai komunitas pesisir dan pedesaan di Sumatera Utara, seperti Kabupaten Langkat dan Pangkalan Susu. Kegiatan tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai modus perekrutan ilegal, penipuan kerja, serta berbagai bentuk eksploitasi yang kerap menjerat kelompok rentan.

YSL juga mengembangkan program literasi migrasi aman bagi calon pekerja migran, khususnya perempuan dan masyarakat yang berada dalam kondisi rentan akibat tekanan ekonomi. Melalui edukasi tersebut, masyarakat didorong untuk memahami prosedur migrasi yang legal, aman, dan terlindungi oleh hukum sehingga dapat meminimalkan risiko menjadi korban perdagangan orang.

Dalam pelaksanaannya, Yayasan Srikandi Lestari melihat bahwa persoalan perdagangan orang tidak dapat dipisahkan dari kerentanan ekonomi dan kerusakan lingkungan. Hilangnya ruang hidup akibat alih fungsi lahan maupun degradasi lingkungan berdampak pada hilangnya mata pencaharian nelayan dan petani tradisional. Kondisi tersebut sering kali memaksa masyarakat melakukan migrasi tanpa persiapan yang memadai sehingga meningkatkan risiko terjebak dalam praktik perdagangan orang maupun perbudakan modern.

Sebagai bagian dari perlindungan korban, YSL juga menyediakan pendampingan hukum dan layanan psikososial bagi perempuan dan anak yang mengalami kekerasan maupun menjadi korban TPPO. Pendampingan tersebut dilakukan untuk memastikan pemulihan trauma sekaligus memperjuangkan hak-hak korban melalui jalur hukum.

Di tingkat kebijakan, Yayasan Srikandi Lestari terus membangun kolaborasi dengan berbagai organisasi masyarakat sipil, termasuk WALHI Sumatera Utara, guna mendorong pemerintah daerah memperkuat regulasi perlindungan terhadap perempuan, anak, serta kelompok pekerja rentan dari berbagai bentuk eksploitasi.

Melalui jejaring regional seperti ARAT, YSL juga berupaya memperkuat sinergi lintas negara dalam berbagi data, memetakan pola perekrutan ilegal, serta mendukung penanganan kasus perdagangan orang yang melibatkan lintas wilayah.

Hingga saat ini, Yayasan Srikandi Lestari telah mendampingi 916 internal migran beserta keluarganya yang terdampak krisis iklim untuk memperoleh akses terhadap perlindungan sosial. Pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen YSL dalam mengurangi berbagai faktor kerentanan yang dapat mendorong terjadinya perdagangan orang dan perbudakan modern.

Melalui partisipasi dalam ARAT Conference 2026, Yayasan Srikandi Lestari menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat gerakan pencegahan TPPO melalui edukasi masyarakat, pendampingan korban, advokasi kebijakan, serta kolaborasi regional. YSL berharap kerja sama lintas negara yang terbangun melalui forum ini dapat memperkuat upaya bersama dalam menghentikan perdagangan manusia dan perbudakan modern di Indonesia maupun kawasan Asia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top