
Medan, 23 Juli 2026 – Yayasan Srikandi Lestari (YSL) menjadi salah satu organisasi masyarakat sipil (OMS) yang diundang untuk mengikuti Focus Group Discussion (FGD) Transformasi Kepemimpinan Lokal: Pembelajaran Respons Darurat Banjir Sumatra 2025 yang diselenggarakan oleh Yayasan Pujiono Centre Indonesia bersama Humanitarian Advisory Group (HAG) Australia di Swiss-Belinn Medan, Kamis (23/7).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kajian Advancing Local Leadership in Humanitarian Evidence Stewardship (ALLIES) yang dilaksanakan di tujuh negara, yakni Pakistan, India, Bangladesh, Suriah, Fiji, dan Indonesia. Melalui kajian ini, penyelenggara berupaya mendokumentasikan praktik kepemimpinan lokal dalam respons kemanusiaan sekaligus memperkuat peran organisasi masyarakat sipil dalam sistem penanggulangan bencana.
FGD di Medan menghadirkan berbagai organisasi masyarakat sipil yang terlibat dalam respons banjir, banjir bandang, dan tanah longsor di Pulau Sumatra pada akhir tahun 2025, termasuk Yayasan Srikandi Lestari. Diskusi difokuskan pada refleksi pengalaman organisasi lokal dalam koordinasi respons darurat, tantangan yang dihadapi, praktik baik yang telah dilakukan, serta rekomendasi untuk memperkuat ekosistem kemanusiaan yang dipimpin oleh aktor lokal.

Melalui forum ini, para peserta membahas berbagai aspek penting, mulai dari mekanisme koordinasi lintas lembaga, proses pengambilan keputusan, akses terhadap sumber daya, hingga hubungan antara organisasi lokal, nasional, dan internasional dalam penanganan bencana. Hasil diskusi diharapkan menjadi bahan pembelajaran bersama sekaligus masukan strategis bagi pengembangan kebijakan dan mekanisme koordinasi kemanusiaan yang lebih inklusif, efektif, dan berkelanjutan.
Pada sesi diskusi yang berlangsung, para peserta dari berbagai organisasi masyarakat sipil turut menyampaikan beragam masukan dan pembelajaran berdasarkan pengalaman mereka dalam merespons bencana banjir Sumatra yang terjadi pada November 2025. Salah satu fokus pembahasan adalah penguatan mekanisme koordinasi kemanusiaan melalui pembentukan dan penguatan Indonesia Humanitarian Coordination Team (IHCT), Interim Management Committee (IMC), serta forum koordinasi lainnya. Upaya tersebut diharapkan mampu memetakan kebutuhan, memperkuat kolaborasi antarlembaga, serta menjadi dasar dalam membangun kembali wilayah-wilayah yang terdampak banjir secara lebih efektif, inklusif, dan berkelanjutan.
Keikutsertaan Yayasan Srikandi Lestari dalam forum ini menjadi bagian dari komitmen organisasi untuk terus memperkuat kapasitas dan kepemimpinan lokal dalam respons kemanusiaan. Pengalaman YSL dalam mendampingi masyarakat terdampak banjir di Sumatra pada tahun 2025 diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap penyusunan rekomendasi yang mendukung penguatan sistem respons bencana berbasis komunitas.
Temuan dari rangkaian FGD di Medan, Padang, dan Banda Aceh selanjutnya akan dihimpun dalam lokakarya konsultatif tingkat nasional di Jakarta, divalidasi bersama para pemangku kepentingan, kemudian diterbitkan dalam laporan kajian ALLIES yang akan diluncurkan pada September 2026. Hasil kajian tersebut juga dijadwalkan dipresentasikan dalam Pertemuan Pembelajaran ALLIES di Bangkok pada Desember 2026.




